Letusan gunung berapi merupakan salah satu peristiwa alam paling dahsyat di dunia, yang berpotensi menghancurkan seluruh kota, membunuh ribuan orang, dan mengubah iklim selama bertahun-tahun. Selama berabad-abad, telah terjadi banyak letusan gunung berapi yang mematikan dan meninggalkan dampak signifikan bagi manusia dan lingkungan. Daftar ini membahas 7 letusan gunung berapi paling mematikan dalam sejarah, dengan fokus pada ukuran, lokasi, fakta menarik, dan warisan abadi mereka.
1: Gunung Tambora, Indonesia – 12,280 kaki
Gunung Tambora, yang terletak di Pulau Sumbawa di Indonesia, merupakan lokasi salah satu letusan gunung berapi paling mematikan dan dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Letusan tersebut terjadi pada bulan April 1815 dan dianggap sebagai letusan paling dahsyat dalam 10.000 tahun terakhir. Letusan Gunung Tambora begitu dahsyat hingga menyemburkan sekitar 10 mil kubik material vulkanik ke atmosfer, mengubah iklim secara signifikan dan mengakibatkan apa yang dikenal sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas” pada tahun 1816. Letusan ini diyakini telah menewaskan hingga 71.000 orang secara langsung, tetapi dampak global dari letusan tersebut, termasuk gagal panen dan kekurangan pangan, menyebabkan kematian puluhan ribu orang lainnya.
Letusan Tambora tidak hanya menimbulkan bencana dalam hal hilangnya nyawa, tetapi juga berdampak luas pada lingkungan dan sosial. Abu dan sulfur dioksida yang dilepaskan ke atmosfer menyebabkan pendinginan drastis pada iklim Bumi, yang mengakibatkan kelaparan yang meluas, terutama di Eropa dan Amerika Utara. Letusan tersebut juga menimbulkan dampak global yang signifikan dengan menyebabkan serangkaian anomali iklim dan menciptakan musim dingin vulkanik yang memengaruhi pola cuaca di seluruh dunia selama beberapa tahun.
Tambora juga merupakan gunung berapi yang menarik karena sejarah geologinya. Sebelum letusan, gunung berapi ini merupakan stratovolcano yang besar dan tinggi, dengan ketinggian 13.000 kaki, tetapi setelah letusan, ketinggiannya berkurang menjadi 12.280 kaki, dan sebuah kaldera besar terbentuk di tempatnya. Letusan dahsyat dan aliran lava serta gelombang piroklastik yang dihasilkan merupakan salah satu kekuatan paling merusak dalam sejarah gunung berapi.
2: Gunung Krakatau, Indonesia – 2.667 kaki
Krakatau, yang juga terletak di Indonesia, terkenal karena letusan dahsyatnya pada tahun 1883, yang mengakibatkan kematian lebih dari 36.000 orang. Letusan tersebut didahului oleh beberapa ledakan kecil sebelum ledakan terakhir yang dahsyat yang terdengar hingga ke Australia dan Pulau Rodrigues, hampir 3.000 mil jauhnya. Letusan Krakatau dianggap sebagai salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat yang pernah tercatat. Letusan tersebut menyebabkan Pulau Krakatau runtuh, membentuk kaldera, dan ledakan tersebut memicu tsunami besar yang menghancurkan kota-kota dan desa-desa pesisir.
Peristiwa ini merupakan salah satu letusan gunung berapi paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah modern. Dampak letusan ini bersifat global, dengan awan abu yang mengelilingi dunia, menyebabkan suhu menurun dan memengaruhi pola cuaca selama bertahun-tahun. Letusan ini juga menghasilkan matahari terbenam yang spektakuler, yang dapat diamati di seluruh dunia karena partikel abu di atmosfer. Letusan ini telah menjadi simbol kekuatan dan ketidakpastian aktivitas gunung berapi.
Pulau vulkanik Krakatau terletak di antara pulau Jawa dan Sumatra. Saat ini, pulau tersebut masih menjadi kajian menarik bagi para ahli vulkanologi, dan pulau kecil Anak Krakatau terbentuk di kaldera letusan sebelumnya. Anak Krakatau sendiri merupakan gunung berapi aktif yang terus meletus secara berkala.
3: Gunung Vesuvius, Italia – 4.203 kaki
Gunung Vesuvius mungkin merupakan gunung berapi paling terkenal di dunia karena letusannya pada tahun 79 M yang menghancurkan kota-kota Romawi Pompeii dan Herculaneum. Letusan itu tiba-tiba dan dahsyat, mengubur kedua kota di bawah lapisan abu dan batu apung yang tebal, menewaskan ribuan orang yang tidak dapat menyelamatkan diri. Letusan Vesuvius merupakan salah satu yang paling mematikan dalam sejarah Eropa, dengan perkiraan 16.000 orang tewas selama peristiwa tersebut.
Vesuvius terletak di dekat Naples, Italia, dan telah meletus berkali-kali sepanjang sejarah, dengan letusan paling terkenal pada tahun 79 M yang merupakan salah satu dari sekian banyak letusan dahsyatnya. Letusan tersebut mengubur kota Pompeii dan Herculaneum, melestarikan reruntuhan dengan cara yang sangat terperinci sehingga memungkinkan para arkeolog dan pengunjung modern untuk memahami seperti apa kehidupan di Kekaisaran Romawi.
Saat ini, Gunung Vesuvius tetap menjadi salah satu gunung berapi paling berbahaya di dunia karena banyaknya populasi yang tinggal di dekatnya. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1944, dan gunung berapi tersebut terus dipantau secara ketat oleh para ahli vulkanologi untuk memprediksi aktivitas di masa mendatang. Vesuvius merupakan bagian dari busur vulkanik Campania dan dianggap sebagai stratovolcano, dengan sejarah letusan eksplosif.
4: Gunung St. Helens, AS – 8.363 kaki
Gunung St. Helens, yang terletak di Negara Bagian Washington, AS, meletus pada tahun 1980, mengakibatkan peristiwa vulkanik paling mematikan dalam sejarah AS. Letusan tersebut menyebabkan longsoran puing yang sangat besar, ledakan lateral, dan aliran piroklastik yang menghancurkan sebagian besar hutan dan menewaskan 57 orang. Letusan tersebut juga meninggalkan kawah besar dan menyebabkan dampak lingkungan yang signifikan, dengan awan abu yang memengaruhi perjalanan udara dan produksi pertanian.
Sebelum letusan, Gunung St. Helens merupakan gunung berapi yang aktif, tetapi telah tidak aktif selama lebih dari 100 tahun. Letusan tahun 1980 didahului oleh serangkaian gempa bumi dan getaran vulkanik yang mengingatkan para ilmuwan akan kemungkinan letusan. Letusan tersebut menyebabkan tanah longsor terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah, dan gumpalan abu yang dihasilkan mencapai 15 mil ke atmosfer.
Letusan Gunung St. Helens menjadi catatan penting karena penelitian yang dilakukan setelahnya, karena para ilmuwan dapat mempelajari dampak letusan gunung berapi yang besar terhadap ekosistem dan satwa liar. Wilayah di sekitar gunung berapi tersebut telah pulih, tetapi letusan tersebut tetap menjadi pengingat kuat akan kekuatan alam yang merusak.
5: Gunung Pinatubo, Filipina – 5.863 kaki
Gunung Pinatubo meletus pada bulan Juni 1991 di Filipina, dan letusannya merupakan salah satu yang terbesar di abad ke-20. Letusan tersebut melepaskan sejumlah besar abu dan sulfur dioksida ke atmosfer, yang menyebabkan suhu global turun sekitar 1,5°F (0,8°C) selama tahun berikutnya. Letusan Pinatubo menyebabkan lebih dari 800 kematian, tetapi dampak tidak langsung dari letusan tersebut, seperti aliran lahar yang dihasilkan dan gangguan terhadap masyarakat setempat, menyebabkan lebih banyak lagi korban jiwa.
Letusan Pinatubo didahului oleh serangkaian peringatan, termasuk sejumlah besar gempa bumi kecil dan peningkatan aktivitas gunung berapi. Letusan tersebut menghasilkan aliran piroklastik dan awan abu besar yang menempuh jarak ribuan mil, memengaruhi perjalanan udara dan menimbulkan masalah kesehatan bagi jutaan orang. Dampak letusan tersebut tidak hanya dirasakan secara lokal tetapi juga secara global, karena abu dan gas yang dilepaskan ke atmosfer menyebabkan pendinginan atmosfer.
Pinatubo terletak di Pulau Luzon dan merupakan bagian dari busur gunung berapi yang lebih besar yang dikenal sebagai Busur Sunda. Letusan tersebut meninggalkan kaldera yang sangat besar, dan area di sekitar gunung berapi tersebut tetap menjadi lokasi yang populer untuk penelitian ilmiah. Letusan tersebut menjadi pengingat akan sifat aktivitas gunung berapi yang tidak dapat diprediksi dan dahsyat.
6: Gunung Fuji, Jepang – 12.389 kaki
Gunung Fuji, gunung berapi paling ikonik dan tertinggi di Jepang, berdiri setinggi 12.389 kaki dan memiliki sejarah letusan yang panjang dan termasyhur. Letusan Gunung Fuji yang paling terkenal terjadi pada tahun 1707, yang dikenal sebagai Letusan Hōei, yang menutupi daerah sekitarnya dengan abu dan memengaruhi kota-kota di dekatnya, Edo (sekarang Tokyo). Letusan tersebut, meskipun tidak separah letusan lainnya dalam hal korban jiwa, memiliki dampak yang signifikan terhadap lingkungan sekitar dan kehidupan orang-orang yang tinggal di dekatnya.
Gunung Fuji adalah gunung berapi stratovolcano yang masih aktif dan terletak di Honshu, pulau terbesar di Jepang. Gunung ini telah menjadi simbol budaya dan spiritual bagi masyarakat Jepang dan telah menjadi topik populer dalam seni, sastra, dan praktik keagamaan selama berabad-abad. Saat ini, Gunung Fuji adalah gunung berapi yang masih aktif, meskipun belum meletus sejak abad ke-18, dan lerengnya dikunjungi oleh ribuan wisatawan setiap tahun.
Meskipun tampak tenang dan memiliki makna budaya, Gunung Fuji tetap menjadi ancaman potensial, dan para ilmuwan memantaunya secara ketat untuk mengetahui tanda-tanda aktivitas vulkanik di masa mendatang. Letusan Gunung Fuji pada tahun 1707 merupakan contoh bagaimana gunung berapi yang tampaknya tenang pun dapat meletus secara tiba-tiba, mengingatkan kita akan bahaya aktivitas vulkanik yang selalu ada.
7: Gunung Etna, Italia – 10.922 kaki
Gunung Etna merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia dan terletak di pulau Sisilia, Italia. Dengan ketinggian 10.922 kaki, gunung ini merupakan gunung berapi aktif tertinggi di Eropa. Etna telah meletus selama ribuan tahun dan telah mengalami banyak letusan sepanjang sejarah, banyak di antaranya yang menyebabkan kerusakan signifikan di daerah sekitarnya. Letusannya sering kali bersifat eksplosif dan disertai aliran lava, awan abu, dan gelombang piroklastik.
Salah satu letusan Gunung Etna yang paling merusak terjadi pada tahun 1669, ketika serangkaian letusan menghancurkan sebagian kota Catania dan menyebabkan kerusakan luas di daerah pertanian di sekitarnya. Letusan tersebut menciptakan aliran lava besar yang mengubur desa-desa dan memaksa ribuan orang meninggalkan rumah mereka.
Gunung Etna terkenal dengan aktivitasnya yang konstan, dengan letusan yang terjadi secara berkala, terkadang beberapa kali dalam setahun. Meskipun sering meletus, Gunung Etna belum menyebabkan banyak korban jiwa di zaman modern, berkat aktivitasnya yang dapat diprediksi dan kesiapsiagaan pemerintah setempat.